Beranda > Desember 2011 > Kiai yang Mencerdaskan Bangsa, bukan Negara

Kiai yang Mencerdaskan Bangsa, bukan Negara

“Saya ke sini bersama teman, Bupati Bondowoso Amin Sa’id, alumni pesantren ini. Ternyata lulusan Nurul Jadid pantas juga jadi Bupati” kata Gus Ipul di hadapan para santri dan peserta istigosah rutin Sabtu wage.

Dengan gaya humorisnya Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf memberikan sambutan. Gus Zakki Situbondo, lanjutnya, mondok 10 tahun di Nurul Jadid. Kader yang akan melanjutkan perjuangan KH Sofyan Miftahul Arifin. Lulusan Nurul Jadid ternyata juga pantas jadi pengasuh.

Gus Ipul terus memberikan contoh, bahwa lulusan Ponpes Nurul Jadid juga bisa jadi pengusaha. Seperti Ketua Ansor Probolinggo, seorang pengusaha alumni Nurul Jadid pula. “Bahkan alumni Nurul Jadid pun ada yang jadi jual kopi, buka warung. Inilah luar biasanya pesantren. Komplit,” kata Gus Ipul sambil tersenyum.

Gus Ipul berpesan kepada para santri agar sering membaca Surat Yasin. Karena memiliki banyak fadilah atau keutamaan. Ia menceritakan apa yang dialami oleh Ustadz Arifin Ilham, bukan seorang Nahdlatul Ulama dan bukan pula Muhammadiyah, ia bisa disebut dengan orang Islam perkotaan. “Ustadz Arifin koma selama 21 hari. Tapi ketika orang yang menjenguknya membaca Yasin terdengar oleh Ustadz Arifin. Kayak sinyal begitu. Suara lain tak terdengar olehnya,” jelasnya menirukan apa yang diceritakan Ustadz Arifin kepada Gus Ipul.

Oleh karena itu, bacaan Yasin memang punya kekuatan yang luar biasa. Selain itu, kata Gus Ipul, baca Surat Waqiah juga. Yasin untuk bekal di akhirat, Waqiah untuk kelancaran hidup di dunia. Jadi insyaallah kita selamat dunia akhirat.

Masih menurut Gus Ipul, menjadi seorang kiai bukan hal yang mudah. Dituntut belajar ngaji kitab dan menghafal Al-Quran. Apalagi jika lulus gajinya juga tidak jelas. “Beli tanah bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk santri. Bahkan tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Dikit-dikit ada yang mau konsultasi, minta doa dan lain-lain,” kata mantan ketua Ansor Pusat ini.

Di samping itu, dari pendataan sekolah yang sudah dilakukan, di Jawa Timur tercatat ada 158 Sekolah Negeri, dan 6560 Sekolah Swasta yang sebagian besar ada di pesantren. Bisa ditarik kesimpulan, bahwa yang mencerdaskan bangsa Indonesia adalah para kiai, bukan negara.

Makanya, Pemerintah Propinsi memberi program khusus bagi Madrasah Diniyah, agar lembaga swasta tersebut bisa lebih maju dan berkembang. “Para kiai terdahulu mayoritas lulusan Madrasah Diniyah. Oleh karena itu akan kita tingkatkan sebagai lembaga yang unggul pula, khususnya di Jawa Timur,” pungkasnya. (ald)

Kategori:Desember 2011
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: